Friday, September 24, 2010

Sikap Iman dalam Perkara Pembebasan

Semangat ini pasti memenuhi pribadi setiap insan yang terbelengu dalam masalah, termasuk orang-orang yang berurusan dengan hukum di negara ini, khususnya mereka yang dikurung dalam jeruji besi tahanan atau penjara. Ada yang sangat tersiksa, yaitu mereka yang harus meninggalkan kenyamanan kehidupannya di luar sana, ada yang biasa-biasa saja, ada yang tertawa-tawa bertemu dengan kerabatnya. Saudara-saudara kita yang didakwa sebagai koruptor adalah orang-orang yang umumnya sangat tersiksa menjalani kehidupan rutin dalam ruangan dan fasilitas terbatas. Mereka ada yang benar-benar menikmati suap dan uang negara, tetapi ada juga yang merasa dakwaannya direkayasa sebagai korban uforia pencitraan lembaga atau lawan politik semata. Menurut kabar bahwa pimpinan KPK saja dakwaannya bisa direkayasa, apalagi orang-orang rendahan yang tidak punya kuasa? Kalau Anda berada di dalam, seperti pernah penulis rasakan, umpatan balas dendam melalui santet, jalur politik, balas buka kebusukan, adalah guyonan yang biasa di lingkungan mereka yang ditahan. Alasannya jelas: "Omong kosong bila pejabat di negeri ini sebagai penguasa dan pengguna anggaran di unitnya tidak pernah terima imbalan."

Apa pun alasannya, yang pasti mereka ingin bebas dari kungkungan. Mereka berupaya dengan berbagai cara dari makelar kasus hingga paranormal, dari Senayan hingga jalur tertinggi di pemerintahan hanya untuk memutarbalikan fakta dari gelap dimanipulasi menjadi terang, atau ingin minta dukungan dengan retorika "yang benar katakan benar yang salah katakan salah". Berbahagialah bagi mereka yang berhasil mendapatkan kebebasan, dengan segala cara baik hubungan keluarga, uang, politik dan kekuasaan.

Mereka yang dibebaskan ini bila sempat diumpat cara pembebasannya, tanpa disadari masuk dalam lingkungan sosial yang penuh cibiran. Tetapi, orang boleh kritik apa pun, yang jelas mereka telah bebas. Orang boleh teriak pembebasan mereka bertentangan dengan semangat memberantas korupsi, siapa peduli? Toh, ada alasan pembenaran yang paling manusiawi yaitu sekarat walaupun belum minta ampun kepada rakyat, dan ada alasan pembenaran kesalahan kebijakan dan tidak ada penyalahgunaan uang negara, walaupun kekayaan mereka di mana-mana. Para ahli hukum, lembaga sosial politik boleh berdebat tetapi juban (juru bantah) pemerintah lebih berkuasa. Uang dan kekuasaan membuat orang buta hati nuraninya. Tetapi ingat, bila lawan politik ganti berkuasa akan mengingat dan tidak tertutup kemungkinan mengusiknya.

Benarlah dalil sejarawan Inggris, Lord Acton, yang menyatakan "kekuasaan cenderung membuat orang menjadi korupsi, kekuasaan absolut pasti membuat orang menjadi korupsi". Orang yang sedang berkuasa, memang bisa berbuat apa saja termasuk hukum diarahkan dan sejarah diputarbalikan sesuai dengan selera penguasa. Uang dan kekuasaan dapat menjelma sebagai perusak azas kebenaran yang dapat mengarah kebiadaban terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Jadi bagaimana bagi mereka yang dianiaya karena kebenarannya tetapi miskin, tidak punya uang, dan tidak punya akses kekuasaan? Perkara mereka dipandang sebelah mata, mereka disudutkan sehingga kebenaran dan keadilan mereka diputarbalikan. Bukankah ini hikmat? Karena mereka ini akhirnya hanya boleh berserah kepada pertolongan Tuhan, sang Pemilik Kehidupan. Sungguh, fenomena kekuasaan sebagaimana fakta di atas dan pernyataan Lord Acton bukanlah hal yang aneh, tetapi menjadi aneh bila orang baru sadar saat ini. Makna dalil itu sudah ditulis dalam Perjanjian Lama 3400 tahun silam.

Keluaran 23:6, "Janganlah engkau memperkosa hak orang miskin di antaramu dalam perkaranya." 23:8, "Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar." Ulangan 16:19 berbunyi senada, "Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar."

Merenungkan nas-nas firman Tuhan dalam Kitab Perjanjian Lama ini mengajarkan prinsip kejujuran dan kebaikan diberikan secara bersamaan dalam hukum yang diberikan Allah. Demikian pula dalam suatu kisah, sesudah Rasul Paulus ditangkap oleh orang Yahudi, ia kemudian dibawa oleh orang Romawi ke Kaisarea untuk menghadap gubernur Feliks (Kisah 21:27-23:35). Paulus dihadapkan dua pilihan antara penjara atau beri uang suap kepada penguasa, tetapi ia tidak menempuh satu langkah pun pada jalan ke arah korupsi, karena kebenaran yang ia miliki. Melalui doa dan nyanyian, Paulus dan Silas menyatakan kesaksian iman mereka bahwa Tuhan yang Mahakuasa itu berdaulat atas segala sesuatu. Hal ini kemudian dikonfirmasi oleh peristiwa gempa bumi yang membuka semua belenggu para tahanan dan pintu penjara (26). Tidak ada kuasa apa pun di dunia ini yang dapat mencegah pertolongan Tuhan kepada umat-Nya yang dianiaya oleh karena kebenaran. Paulus sungguh mengimani bahwa Tuhan di pihaknya, tidak perlu takut pada penderitaan apa pun dan tidak perlu melakukan kebodohan yang melanggar firman Tuhan. Tuhanlah yang mempunyai kuasa menghakimi orang-orang yang berbuat lalim dan tidak adil kepada sesama.

Bila kita melihat pada realitas, "... di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan." (Pengkhotbah 3:16), mari kita arahkan pandangan kita pada kebenaran kekal firman Allah dan terus bergiat dalam pekerjaan-Nya di mana pun kita berada.

BagikanOleh: Yon Maryono
Selanjutnya »»  

Hidup Sederhana

Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama;janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tin ggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai"
(Roma 12:16)

Bulan Nopember 1998 ketika krisis ekonomi sedang hebat-hebatnya melanda beberapa negara di kawasan Asia Tenggara, dalam perjalanan pulang dari kunjungan dinas perusahaan ke Myanmar dan Vietnam, saya sempat singgah di Bangkok, Ibukota Thailand. Thailand pun ketika itu sama seperti kita sedang diterpa krisis ekonomi yang berat. Pada kesempatan memenuhi undangan makan malam di sebuah restoran, saya melihat meja-meja yang tampak kosong kecuali meja kami. Relasi kami menjelaskan kalau bukan karena kedatangan kami sebagai tamu, dia sebenarnya enggan pergi ke restoran karena merasa tidak enak, melihat sebagian besar rakyat Thailand sepakat untuk menjalani kehidupan sederhana selama masa krisis sebagai tanda prihatin, sesuai dengan himbauan para pemimpin masyarakat dan agama. Perasaan saya tersentuh dan diliputi rasa malu, mengingat sebagian dari kita di Indonesia tidak mempunyai sense of crisis bahkan menganggap business as usual, padahal krisis yang dialami bangsa kita jauh lebih berat dan komplex.
Elaine St. James, dalam bukunya "Simplify Your Life", menawarkan berbagai kiat untuk menggapai kehidupan yang bahagia. Namun pada intinya dia menekankan bahwa kehidupan sederhana adalah kuncinya. Memang sepanjang sejarah orang-orang bijak dalam setiap kebudayaan besar menemukan rahasia kebahagiaan bukan terletak pada mendapat atau memiliki lebih banyak tetapi menginginkan lebih sedikit. Terlalu banyak kemauan justru akan tambah membebani hidup.
Memasuki tahun baru, marilah kita merenung kembali melihat tahun yang telah kita lalui. Entah itu banyak atau sedikit, yang pasti kita akan melihat adanya perpaduan antara hal-hal yang menyenangkan dan yang mengecewakan. Kita perlu menghitungnya kembali untuk kemudian mengarahkan langkah kita di dalam memasuki tahun yang baru ini, baiklah kita tidak mengarahkan diri kepada perkara yang muluk-muluk, tetapi pada hal-hal yang sederhana dan realistis! (Nik D.Adam)
Selanjutnya »»  

Firman Tuhan yang Hidup

Baca: Yohanes 5:31-40

Kalian mempelajari Alkitab sebab menyangka bahwa dengan cara itu kalian mempunyai hidup sejati dan kekal. Dan Alkitab itu sendiri memberi kesaksian tentang Aku. -Yohanes 5:39 (BIS)
Bacaan Untuk Setahun:

Mazmur 135-136 * 1 Korintus 12

Dalam suatu konferensi para pemimpin gereja di Seattle Pacific University, seorang pendeta berpengalaman, Earl Palmer, teringat akan suatu pengalaman yang telah membentuk pengajaran dan khotbahnya selama setengah abad.

Sebagai seorang mahasiswa seminari, ia memimpin satu kelompok pendalaman Alkitab di mana ia mendorong para anggota kelompoknya untuk merenungkan dengan sungguh firman Allah yang ada di dalam Kitab Suci. "Saya menjadi yakin," kata Palmer, "bila saya dapat membuat seseorang membaca ayat- ayat itu, cepat atau lambat mereka akan menghargainya, dan ayat-ayat itu selalu akan menuntun mereka kepada pusatnya yang hidup: Yesus Kristus. Ketika Anda mulai menghormati Yesus Kristus, Anda mulai pula beriman kepada-Nya."

Kepada sekelompok pemimpin agama yang sangat memahami Perjanjian Lama, tetapi yang mati-matian menentang-Nya, Yesus berkata, "Kalian mempelajari Alkitab sebab menyangka bahwa dengan cara itu kalian mempunyai hidup sejati dan kekal. Dan Alkitab itu sendiri memberi kesaksian tentang Aku. Tetapi kalian tidak mau datang kepada-Ku untuk mendapat hidup kekal" (Yoh. 5:39-40 BIS).

Dibutuhkan hati yang terbuka dan sekaligus pikiran yang ingin tahu dalam mempelajari Alkitab. Ketika kita menemukan Yesus sebagai Pribadi yang menjadi pusat utama dari keseluruhan isi Alkitab, kita harus memutuskan apa tanggapan kita terhadap diri-Nya.

Tersedia sukacita besar bagi siapa pun yang membuka hati bagi Kristus dan menemukan hidup di dalam Dia. -DCM

Firman Tuhan bagaikan hujan yang menyegarkan
Yang menyirami panenan dan benih;
Membawa hidup baru bagi hati yang terbuka,
Dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan kita. -Sper
Firman yang tertulis menuntun kita kepada Kristus, sang Firman Hidup.
Selanjutnya »»  

Wednesday, September 22, 2010

Humor - Ganti nama

Ada 2 org Kristen yg terdampar di gurun Sahara. Yg satu bernama George, yang
satunya lagi Michael.
Mereka hampir mati kelaparan, tiba2 mereka melihat ada mata air dan ada
sebuah mesjid ditengahnya.
Michael berkata: "Hei, kita harus berpura2 jadi orang muslim, kalo tidak
mereka akan membunuh kita.
Saya akan mengganti nama saya jadi 'Mohammed'. "
George tidak mau mengganti namanya.. George berkata: " Nama saya George, dan
saya tidak mau

berpura2 jadi orang lain. Saya tetap 'George'. "
Imam dari mesjid itu menerima mereka berdua dgn senang hati, dan menanyakan
nama mereka.
Michael: "Nama saya Mohammed"
George: "Nama saya George"
Imam lantas memanggil pembantunya dan berkata:
"Tolong bawakan makanan dan minuman hanya untuk George saja".
Dan dia menoleh pd yg satu: "Mohammed, mudah2an anda masih ingat, kalo
sekarang lagi bulan puasa"
Selanjutnya »»